Beragam Kondisi Buruh Perempuan Dampak Dari Pandemi

Ciptakerja.com – Stasiun Radio Komunitas Marsinah FM dan Kelompok Belajar Perburuhan (Kobar) melakukan survei daring terkait pemenuhan hak-hak buruh perempuan di tengah pandemi covid-19. Adapun berdasarkan hasil survei ditemukan beragam kondisi buruh perempuan terdampak dari pandemi covid-19 (virus corona).

Pendiri Marsinah FM, Dian Septi Trsinanti, dijelaskan bahwa terdapat tiga temuan utama dari hasil survei tersebut. Pertama, mayoritas buruh perempuan kehilangan sumber pendapatan dan kondisi ini ditambah dengan buruh perempuan tidak menerima bantuan sosial.

Menurut Dian, berdasarkan hasil survei ada 63,5 persen buruh perempuan terdampak pandemi dengan pengaruh langsung ke penghasilan.

Berdasarkan hasil survei, perusahaan menggunakan alasan tidak ada order untuk dikerjakan sehingga membuat banyak buruh perempuan terkena pemutusan hubungan kerja (PHK), dirumahkan tanpa dibayar dan dirumahkan dengan upah dipotong.

Dian mengungkapkan jika alasan bahwa tidak ada order untuk dikerjakan, digunakan perusahaan untuk melegitimasi tindakan ini. Namun, tidak ada order bukan berarti perusahaan merugi, karena klaim semacam ini tidak pernah dibuktikan dengan membuka laporan keuangan perusahaan kepada para buruh. Apalagi, pemerintah juga telah memberikan insentif bagi dunia industri berupa stimulus fiskal.

Kata Dian, 28,7 persen buruh perempuan yang penghasilannya terdampak karena pandemi merupakan pencari nafkah tunggal. Menurut dia, kelompok ini ketika kehilangan sebagian kecil penghasilan akan sangat membebani.

Selain itu, buruh perempuan yang penghasilannya terdampak karena pandemi juga kondisinya semakin rentan. Karena 68,7 persen menempati hunian yang disewa dengan sistem pembayaran per bulan.

Kondisi buruh perempuan terdampak pandemi ini kemudian makin diperparah karena buruknya tata kelola penyaluran bantuan sosial (bansos). Dijelaskan ada 41,74 persen responden menyatakan tidak pernah menerima bansos sama sekali.

Temuan kedua, mayoritas buruh perempuan yang penghasilannya terdampak pandemi tidak mendaftar Kartu Prakerja.

Menurut survei, ada 72,18 persen buruh perempuan mengaku tidak pernah mendaftar Kartu Prakerja. Kata Dian, Hal ini menunjukkan bahwa informasi mengenai Kartu Prakerja tidak disampaikan dengan baik oleh pemerintah.

Kemudian temuan ketiga, buruh yang berstatus ibu merasa tidak mampu membiayai kebutuhan anak dan cemas akan masa depan buah hati.

Berdasarkan survei, 53 persen buruh perempuan terdampak pandemi merupakan orang tua yang menanggung sendiri seluruh kebutuhan anak.

Tidak terpenuhinya kebutuhan anak ini, kata Dian, tentu akan berdampak jangka panjang karena anak akan kurang nutrisi.

“Hal ini tentu linier dengan kecemasan buruh ibu akan masa depan anaknya. Hanya 9,84 persen menyatakan masih optimis akan masa depan anaknya,” ungkap dia.

Sebagai informasi, Responden dalam survey ini adalah 181 orang buruh perempuan yang bekerja pada 57 perusahaan dengan 5 wilayah asal responden terbanyak seperti Jakarta, Bekasi, Karawang, Tangerang, dan Semarang.

Spread the love
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *