Demonstrasi RUU Omnibus Law Cipta Kerja Dinilai tidak elegan

Ciptakerja.com – JAKARTA. Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia menyayangkan adanya aksi demonstrasi atau unjuk rasa terkait Rancangan Undang-Undang (RUU) Cipta Kerja atau RUU Omnibus Law Cipta Kerja yang dinilai tidak elegan. 

“Janganlah kita merusak masa depan adik-adik dengan cara-cara yang tidak elegan. Hari ini protes ke sana. Protes itu penting, saya kan dulu juga ikutan demo. Saya kan dulu juga bagian dari hal-hal itu, Tapi yang konstruktif,” kata Bahlil dalam Seminar Strategi Menarik Investasi, Kamis (6/8).

Dia menegaskan, RUU Omnibus Law Cipta Kerja adalah pintu utama masuknya investasi ke dalam negeri. Dia menyampaikan, beleid sapu jagad undang-undang ini memiliki efek keberlanjutan jangka panjang bagi generasi ke depan. Bahlil berharap akan semakin banyak lapangan kerja yang tercipta.

“Ini undang-undang untuk menciptakan pekerjaan adik-adik kita. Kami mau yang terbaik, saya senang didemo. Cuma yang tidak memikirkan masa depan bangsa itu gimana,” jelas Bahlil yang juga menjabat sebagai Juru Bicara RUU Omnibus Law dalam rangka investasi.

Adapun Bahlil menargetkan, RUU Omnibus Law Cipta Kerja ini dapat diundangkan pada akhir Agustus 2020

Kepala BKPM ini menambahkan, saat ini sudah ada tujuh perusahaan dari China sudah memastikan merelokasi usahanya ke Indonesia. Salah satunya perusahaan asal Taiwan.

Selanjutnya, Indonesia juga bahkan diserbu oleh tujuh belas perusahaan lainnya yang saat ini sedang dalam tahap fasilitasi yang sudah pada posisi 70%-80%. Sedangkan 119 perusahaan lainnya berpotensi untuk merelokasi usaha di tanah air.

Berdasarkan data BKPM, realisasi investasi sepanjang semester I-2020 sebesar Rp 402,6 triliun. Pencapaian di paruh pertama tersebut setara 49,3% dari target investasi akhir 2020 senilai Rp 817,2 triliun.

Kenyataannya, realisasi investasi tersebut didominasi oleh sektor jasa atau tersier yang minim menyerap tenaga kerja. Adapun realisasi investasi sektor tersier sepanjang semester I-2020 sebesar Rp 220,9 triliun. Angka tersebut setara dengan 54,9% dari total investasi.

Sebagai catatan, sektor jasa sudah mendominasi investasi di dalam negeri. Atau 

 sudah menjadi tren dalam tiga tahun terakhir yakni sejak 2017 hingga 2019, secara berurutan masing-masing memberikan sumbangsih sebesar 42,3%, 50,8%, dan 57,4% terhadap total realisasi investasi di kala itu.

Spread the love
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *