RUU Cipta Kerja Bantu UMKM Bersaing dengan Industri-industri Besar

Ciptakerja.com – RUU Cipta Kerja memuat 11 klaster. Dua di antaranya adalah klaster ketenagakerjaan dan klaster Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Klaster ketenagakerjaan, meski mendapatkan penolakan dari sejumlah kelompok buruh, dinilai banyak pihak akan meningkatkan perlindungan dan kesejahteraan para pekerja. 

Tidak hanya pekerja tetap. Pekerja outsourcing (alih daya) pun akan ditingkatkan perlindungan dan kesejahteraannya. Tidak seperti di UU Ketenagakerjaan yang berkau sekarang, RUU Cipta Kerja mengatur hak pesangon bagi pekerja outsourcing yang masa kontraknya habis.

Lantas bagaimana pandangan pelaku UMKM terhadap klaster UMKM dalam RUU Cipta Kerja, mengingat UMKM memiliki sumbangsih besar pada penciptaan lapangan kerja?

Pelaku UMKM menyambut gembira dengan Rancangan Undang-Undang (RUU) Cipta Kerja. Pasalnya, klaster UMKM dalam RUU ini dinilai dapat membawa dampak positif bagi sektor UMKM, karena memiliki poin-poin yang diperlukan UMKM untuk bisa bersaing dengan industri-industri besar.

Demikian disampaikan salah satu pelaku UMKM Yuszak M Yahya, melaui press releasenya pada Rabu (29/4).

“Tujuan saya lihat semangatnya RUU Cipta Kerja klaster UMKM itu agar UMKM itu bisa bersaing dengan industri besar. Jadi betul-betul harus dibedain jadi kita betul-betul bisa bersaing,” ujar CEO Serasa Food.

Ia mengatakan, pemerintah memberikan stimulus satu kelonggaran buat UMKM agar bisa beroperasi. Pertama kemudahan perizinan karena selama ini UMKM mengalami kesulitan dalam mengurus perizinan.  

“Jadi memang dasar pemikirannya begini dulu, UMKM ini berbeda dengan perusahaan besar. UMKM sulit jika harus punya izini dulu baru beroperasi. UMKM tidak bisa beroperasi. UMKM ini harus dibuat suatu kelonggaran dalam hal sisi perizinan,” ucapnya.

Perizinan ini menurutnya mencakup soal izin edar produk agar bisa dijual, soal badan hukum, pengurusan legal, pengurusan amdal.

Kedua, RUU Cipta Kerja memberikan stimulus dari sisi permodalan. Ini sangat penting karena Menurut Yuzak permodalan menjadi isu bagi UMKM.  

“Saya lihat sudah cukup positif ya RUU ini. Tinggal bagaimana eksekusinya karena buat maju UMKM ini perlu disupport. Tinggal nanti stimulus ekonominya RUU tersebut tinggal implementasinya,” ucapnya.

Ke depan, Yuszak menyakini para pelaku UMKM menyambut baik disahkannya UU Cipta Kerja. Untuk itu, Yuzak pun mendukung pembahasan klaster UMKM didahulukan dalam pembahasan RUU Cipta Kerja DPR.

“PDB kita 60 persen dari UMKM. Tenaga kerja kita 97 persen terserap di UMKM. Jadi saya pikir UMKM ini memang harus didahulukan. Apalagi situasi wabah kayak gini (corona). Pada 1998 itu UMKM kan menyelamatkan krisis. Nah sekarang di Covid-19 in UMKM juga terdampak krisis. Kalau tidak segera diselamatkan, UMKM bisa menyumbang PHK terbesar,” tutupnya.

Spread the love
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *